Nila Asin

Blog ini digunakan untuk menulis pengalaman pribadi

Ingin Lanjut S3? Aku Jelaskan dengan Bahasa Cinta



Halo pembaca blogku! Semoga harimu menyenangkan. Sedang merasa kewalahan dengan persiapan pendaftaran S3? Jangan khawatir, kamu tidak sendirian. Bahkan di tengah padatnya kegiatanku sebagai dosen, aku pernah mengalami brain fog yang sama saat memulainya. Melalui artikel ini, aku ingin membagikan fondasi penting agar kamu bisa menyiapkan segalanya dengan lebih percaya diri, tanpa perlu merasa kehilangan arah. Seringkali, rasa bingung itu muncul dari dua pertanyaan besar: "Siapa supervisor yang mau membimbing risetku?" dan "Pakai beasiswa apa agar aman sampai lulus?". Banyak yang hanya terpaku pada satu nama beasiswa besar seperti LPDP, padahal di tahun 2026 ini, pintunya terbuka sangat lebar dari berbagai jalur. 

Kenapa S3?
Sebelum melangkah lebih jauh, coba renungkan sejenak: Kenapa kamu ingin S3? Setiap orang memiliki tujuan dan timeline hidup yang berbeda-beda. Namun, dengan memahami Why atau alasan mendasar tersebut, kamu akan memiliki bahan bakar yang cukup untuk terus berjuang mencari jalan menuju gelar doktor. Aku pribadi memilih S3 dengan tujuan utama meningkatkan perkembangan karier sebagai dosen di Indonesia. Karena fokusku adalah berkontribusi bagi pendidikan tinggi di dalam negeri, maka menjadi sangat relevan jika aku memilih Beasiswa LPDP yang memang dirancang untuk mencetak SDM unggul bagi bangsa melalui hasil investasi dana abadi pendidikan.

Dalam Negeri atau Luar Negeri?
Pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah: Lebih baik di dalam atau luar negeri?
Menurutku, memilih lokasi S3 bukan tentang mana yang lebih hebat, tapi mana yang paling strategis bagi hidupmu. Setiap orang punya pertimbangan masing-masing, mulai dari kesiapan riset, dukungan keluarga, hingga kondisi personal lainnya. Jika memilih di dalam negeri, kamu bisa menyicil dokumen persyaratan seperti sertifikat TOEFL ITP dan TPA, sedangkan jika kamu memutuskan untuk kuliah di luar negeri, siapkan sertifikat Bahasa Inggris yang diakui secara internasional (biasanya sih IELTS atau TOEFL iBT) dan dokumen lainnya jika diperlukan untuk mendaftar.
Kalau aku pribadi, berhubung saat ini statusku di KTP "TIDAK KAWIN" alias belum menikah (bukannya gak mau kawin, eeehhh) dan tidak memiliki tanggungan keluarga yang menghalangi mobilitas, aku memutuskan untuk mengambil tantangan S3 di luar negeri. Pilihan ini aku ambil agar aku bisa fokus sepenuhnya pada riset sekaligus merasakan pengalaman hidup secara mandiri di lingkungan akademik yang berbeda.

Langkah Selanjutnya....

Pahami Topik Riset
Ini bukan sekadar formalitas pendaftaran, melainkan tentang bagaimana kamu akan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa S3 nanti. Jika kamu memilih jalur di mana topik riset sudah ditentukan (misalnya bergabung dalam proyek profesor tertentu), pastikan kamu benar-benar tertarik dan memiliki dasar pengetahuan di bidang tersebut. Sebaliknya, jika kamu memiliki kebebasan menentukan topik sendiri, gunakanlah kesempatan itu untuk menggali sesuatu yang benar-benar kamu kuasai dan cintai. Oleh karena itu, di tahap awal ini, tidak ada jalan pintas: harus banyak membaca. Pemahaman yang mendalam bukan hanya memudahkan saat mencari supervisor, tapi juga menjadi pelindung agar tidak merasa terbebani saat riset mulai terasa berat nantinya (ini teoriku aja sih biar keliatan bijak :p).
Tapi, jika kamu tipe penyuka tantangan dan ingin mempelajari hal yang benar-benar baru.. like something you’re completely unfamiliar with... dan calon supervisor kamu pun oke akan hal itu, ya sudah, gas saja! Mau familiar dan gak familiar pada akhirnya sama - sama bikin sakit kepala kok hahaha.
Oh ya, cari tau juga mengenai program di universitas tujuan, apakah ada credit yang harus didapatkan melalui kuliah, tugas dan ujian sehingga bisa mempersiapkan mental sedari dini sebelum dihajar.

Hunting Calon Supervisor
Ini menurutku part paling krusial. Banyak yang perlu hunting puluhan aplikasi ke calon supervisor tapi ada juga yang sekali menghubungi calon supervisor langsung diterima. Saranku, kamu email calon supervisor dengan bahasa yang to the point. Misal kamu sudah punya proposal riset, kamu bisa lampirkan proposal riset, tapi kamu harus tetap rendah hati dengan meminta pendapat calon supervisor mengenai proposal tersebut. 
Namun, proposal penelitian bukanlah hal utama. Mencari calon supervisor ibarat mencari jodoh. Layaknya mencari jodoh, hal yang dilakukan antara lain: membuat CV yang menarik untuk menjebak jodoh, menyampaikan ketertarikan pada calon supervisor yang dituju berdasarkan rekam jejak keahliannya lalu cari benang merah dengan profilmu yang tertulis di CV untuk menunjukkan bahwa kalian itu cocok! Jangan lupa buat subject email yang eye-catching, tidak terlalu panjang dan to the point. Oh ya, saat berkenalan dengan calon supervisor bisa juga pakai jasa mak comblang seperti teman kalian yang kenal dengan profesor tersebut. Persis kan seperti langkah PDKT atau taaruf? 
Walaupun sudah diupayakan seperti itu, tidak selalu email akan berbalas positif atau malah mungkin tak berbalas alias kena ghosting. Tapi, tak mengapa, tak usah berkecil hati, bukan berarti supervisor tidak memilih kamu karena kualitas kamu buruk, bisa jadi karena alasan lain seperti beliau sedang full bimbingannya atau sedang ada kesibukan lain, just take it easy, no baper baper sama kaya PDKT lah ya hahaha. Cinta kan emang tak bisa dipaksakan, eaaaakkk

Berburu Funding
Setelah calon supervisor setuju untuk membimbingmu tapi profesor tersebut tidak mengatakan kalau proyek mereka akan membiayai S3 mu, gausah kecewa dulu karena saat ini ada banyak sekali beasiswa S3 yang ditawarkan di berbagai negara seperti beasiswa yang diberikan oleh pemerintah negara tujuan studi contohnya AAS, MEXT, DAAD, Fulbright, dan sebagainya atau beasiswa yang diberikan oleh negara kita tercinta yaitu LPDP dan turunannya. 
Dalam rangka berburu beasiswa, kamu bisa pantengin tuh website beasiswa tujuan dan lengkapi persyaratannya. Kalau misal harus buat esai, kamu bisa minta pendapat teman-temanmu apakah esainya sudah oke dan kamu banget atau enggak atau jangan-jangan tulisanmu halu seperti lagi mabuk kecubung :p. Ingat ya gaes, berburu funding ini gampang-gampang sulit, sama menantangnya seperti berburu supervisor, kamu harus serius mempersiapkannya, jangan menyepelekan mentang - mentang udah dapat lampu hijau dari calon supervisor. Tapi kalau calon supervisor sanggup membiayai mahasiswa S3 nya, kamu gausah repot-repot melakukan step ini, lebih simpel dan praktis.

Kunci Kesuksesan
Karena key of success adalah kunci kesuksesan, kamu harus berusaha dan berdoa. Hidup adalah perjuangan, begitu pula S3, sebelum S3 kita harus berjuang, saat S3 harus berjuang dan habis lulus pun harus berjuang. S3 di dalam negeri maupun di luar negeri sama - sama bikin sakit kepala yang mungkin membuat gelar PhD itu punya kepanjangan Permanent Head Damage karena kita diharapkan bisa membuat scientific breakthrough. Tapi ya semoga gak rusak beneran ya kepalanya biar lulus tetap cantik/tampan dan memukau. 
Bagi yang masih ragu-ragu untuk memulai jangan ragu, bagi yang sedang berjuang terus berjuang, bagi yang gagal jangan menyerah, bagi yang sudah berhasil jangan sombong. Mau S3 atau gak S3 percayalah, hidup itu adalah tantangan, sama-sama sulit!



1 comment

  1. Terima kasih banyak bu dosen atas tulisannya yang bermanfaat sekali. Sukses untuk studi S3 nya di negri kangguru, u u ukk..

    ReplyDelete